4 Hal mengapa Ayah harus dihargai

Dunia memperingati 1 Juni sebagai Hari Ayah. Memang tak banyak yang tahu, karena biasanya lebih fokus pada penghormatan sosok ibu setiap 22 Desember. Dirayakan atau tidak, yang jelas ayah layak dihormati dan dihargai. Jasa-jasanya begitu besar, tak kalah dengan ibu.

Namun sayang, tak sedikit anak yang justru mengabaikan ayahnya. Ada anak yang suka membangkang perintah ayah, mambantah kata-katanya mencap ayahnya kejam, kuno, pelit, dll. Tak sedikit anak yang merasa malu dengan sosok ayahnya, rendah diri, merasa hina, tidak bangga, bahkan minder sekedar menyebut nama ayah dihadapan teman-temannya. terlebih jika profesi ayah dinilai rendahan, biasa saja dan tidak bonafid.

Akibatnya, kerap kali hubungan anak-ayah menjadi renggang. terlbeih jika akan sudah beranjak dewasa, ayah sudah bukan menjadi tumpuan rujukan lagi. kecintaan anak-ayah makin menipis, hubungan anak-ayah hambar, kaku, formal bahkan renggang. Jangankan peluk-cium, sapaan pun sekadar basa-basi di bibir.

Yang lebih parah lagi, ada anak sampai membenci ayahnya, hingga mengabaikan tatanan Islam. Seperti kabur dari rumah tanpa pamit, menikah tanpa restu ayahnya atau memutuskan silaturrahim dengan ayah kandung dengan berbagai alasan. Hal tersebut tentunya tidak layak dilakukan anak yang mengaku shalih-shalihah. Untuk itu, anak perlu memahami pentingnya peran ayah berikut jasa-jasanya. Seperti :

Ayah adalah pemberi nafkah
Ayahlah yang memberi makan kita sejak dalam kandungan hingga dewasa. Juga, menopang keperluan hidupa anak-anaknya hingga dewasa, yakni anak perempuan sampai menikah dan anak laki-laki sampai ia bekerja. Bayangkan, jika dinilai rupiah, berapa trilyun nafkah yang sudah dialirkan ayah demi anaknya?

Ayah Sebagai pendidik anak
Ayah bukan sekedar tempat menadah materi, uang saku, SPP, baju baru, tapi punya kewajiban sebagai pelindung pengayom dan pendidik anak. Adalah wajar jika nasihat-nasihat meluncur dari mulutnya, karena tugasnya membimbing dan mendidik anak agar shalih-shalihah. Ayah adalah perisai agar buah hatinya tidak tergelincir dalam kenistaan.

Ayah adalah wali bagi anak, khususnya perempuan.
Anak perempuan berada dalam naungan wali, yakni ayah kandungnya. jika akan keluar rumah, anak harus izin. Kalau hubungan dengan ayah baik, pasti izin tidak maslaah asal untuk kebaikan. JIka akan menikah, harus direstui ayah, karena ayah yang berhak menikahkan anak perempuannya. Jangan sampai karen atidak harmonis, menikah tanpa ayah. Tentu tidak sah.

Ayah mewariskan nama baik dan harta jika telah wafat
Ayah menjalankan fungsi sebagai pelestari keturunan. Keberadaan anak sangat membanggakannya, sebagai pewaris nama baik dan penerus cita-citanya. Ayah tak mengharap apapun dari anak, bahkan akan berusaha mencukupi kebutuhan anaknya hingga ia meninggal. Sebab itu anak berhak atas warisannya.

Dengan melihat hal diatas, sangat wajar jika anak wajib berbakti, menjada nama baiknya, merawt saat ia renta dan mendoakannya ketika ia telah tiada. Jangan sampai di akhir masa hidupnya, karena tidak dekat dengan ayah, malah ayah dikirm ke panti jompo. juga tidak pernah mendoakannya karena kesibukan dunia.

Mari, mulai sat ini kita menjaga hubungan dengan ayah. Sebagaimana Rasulullah SAW begitu dengan Fatimah, Fatimahlah yang merawat Rasulullah SAW diakhir hayatnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar